Selasa, 24 September 2019

MENGENAL IKAN TAWES (Puntius javanicus)



MENGENAL IKAN TAWES (Puntius javanicus)




I. PENDAHULUAN
Ikan Tawes (Puntius javanicus) merupakan ikan peliharaan yang berasal dari sungai, tergolong dalam marga Cyprinidae seperti ikan mas dan nilem. Bentuk tubuh ikan tawes mirip dengan ikan mas, tetapi badannya lebih memanjang dengan sirip punggung relatif lebih panjang. Pada mulutnya terdapat dua kumis dan bibirnya berkeruk-keruk sebagai tanda pemakan jasad penempel.
          Ciri-ciri ikan tawes yaitu bentuk badannya memanjang dan kecil, sedangkan sisiknya berwarna putih keperak-perakan. Panjang batang ekor ikan tawes dan tinggi badannya yang terenda adalah sama. Ikan tawes mempunyai tanda hitam pada pangkal ekor.
3
 
          Di perairan umum ikan tawes berkembang biak pada akhir musim penghujan, sedangkan di kolam berkembang biak sepanjang tahun jaka terdapat cukup air jernih. Kematangana kelamin dicapai pada akhir musim pertama berukuran 15-20 cm, telur transparan demersal. Fekunditas bervariasi antara 50.000-94.000 butir dari induk beratnya 130-255 gr. Untuk ketinggian tempat yang cocok dalam pemeliharaan 800 m di atas permukaan laut, suhu 18-28 oC.

II. DESKRIPSI IKAN
2.1.      Sistematika
          Sistematika ikan tawes adalah sebagai berikut:
Species         : Puntius javanicus
Gernus                   : Puntius
Sub famili     : Ciprininae
Famili           : Cyprinedae
Sub ordo      : Cyprinoidea
Ordo            : Ostariophysi

2.2.      Macam-macam Ikan Tawes
Sedikitnya ada empat macam ikan tawes yang biasa ditemukan yaitu:
  • Tawes biasa  : sisik berwarna putih kelabu
  • Tawes bule    : sisik albino, mulai terdapat pada tahun 1936
  • Tawes silap   : sisik berwarna putih kelabu bercampur dengan sisik keperak-
  perakkan.
  • Tawes kunpay         : sisik berwarna kelabu, ekornya terutama sirip dada dan ekor
  panjang.

2.3.      Sifat-sifat Ikan Tawes
          Ikan tawes merupakan ikan sungai, dapat hidup pada salinitas 7 ppm. Jenis ikan ini sangat cocok dipelihara dikolam-kolam, waduk dan sawah. Ikan tawes digolongkan termasuk sebagai herbivore. Pemijahan di kolam terjadi sepanjang tahun, tidak ada musim. Di sungai atau di perairan umum pemijahan terjadi pada permulaan musim penghujan.

III. PROSES BUDIDAYA

          Pemeliharaan ikan tawes biasanya dilauan secara tradisional, penanaman dilakukan baik dikolam ataupun di sawah. Pada umumnya pemeliharaan ikan tawes dilakukan secara poliultur dengan jenis-jenis ikan lainnya, yaitu dengan jenis ikan yang mempunyai sifrat maan yang berlainan seperti ikan mas yang memaan jasad-jasad dasar, tambakan pemakan plankton, nilem pemakan jasad-jasad penempel (periphiton). Susunan campuran pemeliharaan bervariasi bergantung kepada ian utama yang diehendaki dan esuburan kolam.
4
 
          Penyakit pada ikan tawes adalah Icthyophirius, Dacthylogyrus dan gyrodctylus, penyakit ini tidak berbahaya dan belum pernah di amati terjadi ematian masal. Dacthylogyrus dapat menyebabkan kerusakan pada ujung-ujung filament insang. Pada benih-benih yang di berok sering dijumpai Cyclochaeta. Pada ikan yang terserang ini pada insang umimnya merana menyebabkan ikan menjadi kurus. Myxobolus merupakan penyakit yang berbahaya yang dapat menyebabkan kematian masal. Lernaea jarang menyerang benih dan ikan dewasa.

IV.  PENANGANAN PENYAKIT
          Penyakit yang menyerang Ikan Tawes antara lain Gyrodactylus dan Mixobolus spp yang kerap menyerang pada benih sampai ikan dewasa.

GYRODACTYLIASIS
Penyebab               :Parasit ini termasuk monogenia; Menyerang pada bagian tubuh dan sirip ikan.
Jenis dan ukuran     :Hampir semua jenis ikan air tawar,terutama ukuran benih.
Gejala klinis           :Ikan menjadi lemah, nafsu makan berkurang, frekuensi pernapasan meningkat dan produksi lendir meningkat.
Faktor pendukung   :Kualitas air yang menurun, kekurangan pakan, padat tebar tinggi dan fluktuasi suhu air selalu berubah.
Penularan               :Melalui air dan kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi.
Verifikasi                :Pengamatan melalui microkopis.
Pencegahan            : - Meningkatkan kualitas air
-   Pemberian pakan tepat mutu dan jumlah yang diperlukan
-   Pengendapan aira dan pemasangan saringan pada pintu pemasukan
Pemberantasan       : - Perendaman dengan larutan larutan garam dapur,
    dosis 12,5-13 gr/m2 selam 24-36 jam
-   Perendaman dengan larutan formalin 40 ppmselama 24 jam

MYXOSPOREASIS
Penyebeb               : Mixobolus spp, parasit ini; termasuk kelompok myxosporea
Jenis dan ukuran     :Myxobolus spp biasanya; menyerang pada bagian insang saat benih, mulai berumur 1 bulan
Gejala klinis           :Adanya benjolan menyerupai tumor pada insang ikan, bahkan sering disebut penyakit amandel
Faktor pendukung   : Kualitas air menurun dan padat tebar yang tinggi
Penularan               : Melalui air dan ikan yang mudah terinfiksi.
Verifikasi                : Pengamatan mikroskopis
Pencegahan            : - Pengendapan air dan pemasangan saringan pada pintu    pemasukan
-   Dilakukan pengapuran dan pengeringan kolam

ikan tawes (puntius javanicus) memiliki badan yang berbentuk hampir segitiga dan pipih, sisik relatif besar dengan warna keperak-perakan atau putih keabu-abuan. tinggi badan ikan tawes 1 : 2,4-2,6 kali panjang standar. mulut berbentuk runcing dan letaknya di tengah (terminal), selain itu mulut ikan tawes memiliki dua pasang sungut yang kecil. sisik ikan tawes berwarna putih keperakan. warna sisik di bagian punggung lebih gelap, sedangkan warna sisik di bagian perut lebih putih. dasar sisik berwarna kelabu sampai gelap. sirip ekor bercagak dalam dengan lobus membulat (susanto, 2007).
Habitat Ikan Tawes (Puntius Javanicus )
ikan tawes merupakan spesies asli indonesia yang banyak ditemukan hampir di semua perairan tawar khususnya di perairan mengalir ( lotic ). ikan tawes pertama ditemukan diperairan pulau jawa oleh karena itu ikan tawes diberi nama latin puntius javanicus. ikan tawes mulai banyak ditemukan tersebar di negara-negara asia dan mulai membentuk strain atau ras. pada awalnya ikan tawes merupakan jenis ikan liar yang hidup di sungai-sungai yang berarus deras. kemudian lama kelamaan ikan ini mulai dibudidaya dan dikembangbiakan (susanto, 2000).
ikan tawes memiliki beberapa nama daerah, yaitu putihan, bader (jawa); badir (madura); kandia, rampang (sulawesi selatan), taweh, baru (sumatera barat). dalam istilah bahasa inggris tawes dikenal sebagai java carp. di indonesia, ikan tawes banyak dibudidayakan baik di jawa, sumatra, kalimantan, sulawesi, irian jaya, bali, ntb, dan ntt. ikan tawes merupakan salah satu jenis ikan tawar yang memiliki penyebaran sangat luas di mana ikan ini mudah ditemukan di perairan bebas di pulau jawa (kottelat et al., 1993).
ikan tawes merupakan ikan air tawar yang mampu hidup di air payau dengan salinitas 7 per mil. oleh karena itu, ikan tawes dapat dibudidayakan di kolam budidaya, tambak, sawah, waduk, bendungan, dan perairan umum lainnya. budidaya di perairan umum dapat dilakukan dengan sistem jaring terapung dan karamba (santoso & wikatma, 2001). ikan tawes dapat hidup dengan baik pada daerah dengan ketinggian 50-800 m dpl. namun demikian, yang terbaik adalah di tempat yang tingginya 50-500 m dpl. suhu ideal untuk kehidupan ikan tawes berkisar 20-33 0 c, dengan ph air berkisar antara 6,7 – 8,6 (evi, 2001).

DAFTAR PUSTAKA
Daelani Deden A.S. Agar Ikan Sehat, Penebar Swadaya Cianjur, 2001.
Dinata Sumanta, K. Pengembang biakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. PT Sastra Hudaya, Bogor 1983.
Harja, M.A. Budidaya Ikan Nilem untuk SUPM Budidaya Bogor. Departemen Pertanian Badan Pendidikan dan Latihan Penyuluh Pertanian. Bogor 1978.
Razi Fahrur, 2013. Penanganan Hama dan Penyakit ikan Tawes.
Rohmat C. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Tawes Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Sachlan, M. Parasit ,Penyakit dan Hama Buraya Ikan SUPM (Jurusan Budidiya) Bogor, Juni 1975.


Rabu, 04 September 2019

MENGENAL IKAN BAUNG (Mystus Nemurus)


MENGENAL IKAN BAUNG
(Mystus Nemurus)



Ikan Baung merupakan salah satu jenis ikan yang sangat potensial untuk dibudidayakan. Ikan baung adalah sejenis lele (catfish) yang hidup di perairan umum, seperti dari hulu sungai sampai ke muara dan danau. Di Indonesia, ikan baung cukup populer dan amat digemari oleh konsumen, khususnya di  Kalimantan selatan karena berdaging tebal dan memiliki rasa yang khas.

Harga satu kilogram ikan baung ukuran konsumsi (1/4 kg - 1 kg) adalah Rp 15.000,00 sampai Rp 40.000,00. Karena nilai ekonomisnya tinggi, ikan baung senantiasa diburu dan ditangkap. Sampai saat ini, penyediaan ikan baung untuk konsumsi masih diperoleh dari penangkapan di alam. Ekploitasi alam tanpa memperhatikan kelestarian tentu akan menurunkan populasi ikan baung, bahkan dapat mengakibatkan kepunahan. Gejala kepunahan ikan baung sudah dirasakan oleh masyarakat Sumatra Tengah (Riau, Jambi, dan Bengkulu), Sumatra Selatan, dan Kalimatan.

Klasifikasi Ikan Baung
Ikan baung diklasifikasikan ke dalam Phylum Chordata, Kelas Pisces, Sub-kelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub-ordo Siluroidea, Famili Bagridae, Genus Macrones, dan Spesies Macrones nemurus CV. (Saanin, 1968). Menurut Imaki et al. (1978), ikan baung dimasukkan dalam Genus Mystus dengan spesies Mystus nemurus CV.
Sinonim Mystus nemurus adalah Bagrus nemurus CV., Bagrus hoevenii Blkr., Bagrus sieboldi Bikr., Hemibagrus nemurusBikr., Macrones nemurus Gunther., Macrones bleekeri Volza., Macrones howony Popla., dan Macrones borga Popla (Weber and de Beaufort, 1965).
Di daerah Karawang, ikan baung dikenal dengan nama ikan tagih atau senggal, sedangkan di Jakarta dan Malaysia dikenal sebagai ikan bawon, senggal, singgah, dan singah (Sunda/Jawa Barat); tageh (Jawa); boon (Serawak); niken, siken, tiken, tiken-bato, baungputih, dan kendinya (Kalimantan Tengah); baong (Sumatra) (Weber and de Beaufort, 1965; Djajadiredja et al., 1977).

Morfologi Ikan Baung
Ikan baung mempunyai bentuk tubuh panjang, licin, dan tidak bersisik, kepalanya kasar dan depres dengan tiga pasang sungut di sekeliling mulut dan sepasang di lubang pemafasan; sedangkan panjang sungut rahang atas hampir mencapai sirip dubur.
Pada sirip dada dan sirip punggung, masing-masing terdapat duri patil. Ikan baung mempunyai sirip lemak (adipose fin) di belakang sirip punggung yang kira-kira sama dengan sirip dubur. Sirip ekor berpinggiran tegak dan ujung ekor bagian atas memanjang menyerupai bentuk sungut. Bagian atas kepala dan badan berwama coklat kehitam-hitaman sampai pertengahan sisi badan dan memutih ke arah bagian bawah

Daerah Penyebaran Ikan Baung
Distribusi ekologis ikan baung, selain di perairan tawar, sungai, dan danau, juga terdapat di perairan payau muara sungai dan pada umumnya ditemukan di daerah banjir. Ikan baung berhasil hidup dalam kolam yang dasarnya berupa pasir dan batuan (Madsuly, 1977). Di Jawa Barat, ikan baung banyak ditemukan di sungai Cidurian dan Jasinga Bogor yang airnya cukup dangkal (45 cm) dengan kecerahan 100 %. 
Distribusi geografis ikan baung, selain di perairan Indonesia, juga terdapat di Hindia Timur, Malaya, Indocina, dan Thailand.
Pakan dan Kebiasaan Makan Ikan Baung
Ikan pada umumnya mempunyai kemampuan beradaptasi tinggi terhadap makanan dan pemanfaatan makanan yang tersedia di suatu perairan. Dengan mengetahui kebiasaan makan ikan, maka kita dapat mengetahui hubungan ekologi organisme dalam suatu perairan, misalnya bentuk-bentuk pemangsaan persaingan makanan dan rantai makanan.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa ikan baung termasukjenis ikan karnivora dengan susunan makanan yang terdiri atas ikan, insekta, udang, annelida, nematoda, detritus, sisa-sisa tumbuhan, atau organik lainnya. Susunan makanan ikan baung dewasa berbeda dengan susunan makanan ikan baung anakan. Makanan utama ikan baung dewasa terdiri atas ikan dan insekta, sedangkan makanan utama anakan ikan baung hanya berupa insekta. Tetapi, Djajadiredja et al. (1977) mengemukakan bahwa ikan baung termasuk jenis ikan omnivora dengan makanan terdiri atas anak ikan, udang, remis, insekta, moluska, dan rumput. Makanan utama ikan baung yang hidup di Waduk Juanda terdiri atas udang dan makanan pelengkapnya berupa ikan dan serangga air, sehingga digolongkan dalam jenis ikan kamivora.

Cara Berkembang Biak Ikan Baung
Berdasarkan laporan alawi et.al. (1990), ikan baung diperairan sungai Kampar (Riau) memijah pada sekitar bulan Oktober sampai bulan Desember.  Hal ini merupakan fenomena umum karena pada saat itu biasanya musim hujan dan sebagian besar ikan diperairan umum memijah pada awal atau sepanjang musim hujan.  Hal ini terjadi karena ikan yang akan memijah umumnya mencari kawasan yang aman dan banyak makanan.

Kawasan seperti ini didapatkan pada kawasan rerumputan yang digenangi air pada saat musim hujan tiba.  Demikian juga jenis ikan baung mencari tepat perlindungan dan membuat sarang bila melakukan pemijahan (Bardach et.al., 1972).

Ikan Baung suka bergerombol didasar perairan dan membuat sarang berupa lubang di dasar perairan yang lunak dengan aliran air yang tenang. Ikan baung menyukai tempat-tempat yang tersembunyi dan tidak aktif keluar sarang seblum petang. Setelah hari gelap, ikan baung akan keluar dengan cepat untuk mencari mangsa, tetapi tetap berada disekitar sarang dan segera akan masuk kesarang apabia ada gangguan. 
Nokturnal (aktif malam hari) juga merupakan sifat ikan baung. Ikan ini beraktivitas (mencari makan, dll) lebih banyak dilakukan pada malam hari. Selain itu, baung juga memiliki sifat suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai tempat habitat hidupnya. Di alam, ikan baung temasuk pemakan segala (omnivora). Nmaun ada juga yang menggolongkannya ikan carnivora, karena lebih dominan memakan hewan-hewan kecil sepeti ikan-ikan kecil, udang, udang kecil, remis, insekta, mollusca dll.
Pola pertumbuhan ikan baung adalah allometrik (b>3), yaitu pertambahan berat lebih cepat dari pertambahan panjang badan. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, ikan baung jantan berpola isometrik (b=3), di mana pertambahan berat sebanding dengan pertambahan panjang badan.

Ukuran ikan baung berhubungan dengan agresivitasnya dalam mencari makan dan kematangan gonad. Karena harga b di atas 3, maka pertumbuhan ikan baung lebih cepat dari pada panjang badan. Dengan demikian, faktor makanan memegang peranan yang sangat penting. Jika ikan baung semakin banyak mendapat makanan, pertumbuhan beratnya semakin tinggi. Karena itu ikan baung berukuran besar cenderung lebih agresif mencari makan sehingga pertumbuhannya berpola allometrik.

Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan ikan baung adalah kematangan gonad. Ikan baung betina memiliki pola pertumbuhan allometrik. Hampir 77% ikan baung betina mengandung telur, sehingga berat telur tersebut mempengaruhi pertumbuhannya. Hal ini juga menyebabkan pola pertumbuhan ikan baung (jantan dan betina) berpola allometrik. Pada waktu musim memijah, pola pertumbuhan ikan baung betina bisa berbeda dengan ikan baung jantan.

Jenis kelamin ikan baung dapat di ketahui dengan dua cara, yaitu dengan dengan membelah perut dan memeriksa gonadnya dan dengan mengamati ciri-ciri morfologis. Gonad ikan baung betina dan ikan baung jantan terletak di rongga perut bagian dorsal intestin. Gonad ikan baung dapat diperiksa setelah ikan baung tersebut berukuran 90 g atau kira-kira panjangnya 20 cm. Ikan baung yang lebih kecil dari ukuran tersebut dapat di bedakan dengan mengamati lobang genital (genital pore).



Pada ikan baung jantan, lobang genital agak memanjang dan terdapat bagian yang meruncing kearah caudal. Alat ini merupakan alat bantu untuk mentransfer sperma. Sedangkan Ikan baung betina, lobang genitalnya berbentuk bulat. Lobang genital ini akan berwana kemrah-merahan apabila ikan baung betina tersebut sudah mengandung telur pada Tingkat Kematangan Gonad (TKG) V. 




DAFTAR PUSTAKA
Khairul Amri dan Khairuman, 2008, Ikan Baung , Agromedia Pustaka

Supriatna aan, 2018. Mengenal ikan baung. Didownload dari laman https://www.lalaukan.com/2018/08/mengenal-ikan-baung.html 

https://www.dunia-perairan.com/2012/11/ikan-baung-hemibagrus-nemurus.html

Jumat, 23 Agustus 2019

MENGENAL BUDIDAYA IKAN SEPAT SIAM (Trichogaster pectoralis)


MENGENAL BUDIDAYA IKAN SEPAT SIAM
(Trichogaster pectoralis)


Ikan sepat rawa merupakan salah satu ikan lokal potensial. Produksi ikan sepat rawa seluruhnya masih bergantung hasil tangkapan alam. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan kelimpahan ikan sepat rawa di beberapa lokasi. Masalah tersebut perlu segera diantisipasi, salah satunya melalui kegiatan budidaya
Ikan sepat merupakan ikan asli negara Thailand.  Di habitat aslinya, ikan ini hidup di rawa - rawa yang banyak ditumbuhi tanaman airnya, karena ikan ini butuh substrat sebagai tempat melatakkan busa untuk telur - telurnya. Meskipun ikan ini tidak begitu populer dikalangan masyarakat luas, namun ikan ini cukup dikenal di Indonesia. Meskipun ikan ini adalah ikan untuk konsumsi, tapi pada ukuran kecil ikan ini bisa dijadikan sebagai ikan hias, karena bentuk tubuh dan warnanya sangat menarik. Ikan sepat siam merupakan ikan asli  negara Thailand, dan hidup di rawa-rawa. Ikan ini di datangkan ke Indonesia pada tahun 1934 dari semenanjung Malaka.
Klasifikasi ikan sepat siam :
Ordo               : Labyrinthici
Sub Ordo        : Anabantoidae
Famili              : Anabantidae
Genus              : Trichogaster
Species            : Trichogaster pectoralis

Ciri-ciri
Badan memanjang, pipih kesamping (compressed), tinggi badan 2,2 sampai 3 kali panjang standar.  Sirip punggung mempunyai 7 buah duri dan 10-11 jari-jari sirip lemah, sirip dada lebih panjang daripada kepala, mulut sangat kecil dan dapat disembulkan.
Jari-jari sirip perut yang pertama mengalami modifikasi menjadi filamen yang panjang mencapai sirip ekor. Linealateralis (1.1.) terdiri dari 42-47 sisik.  Pada daerah punggung badan hijau kegelapan sedangkan pada bagian badan sebelah sampaing sisik lebih terang.  Pada kepala dan badan terdapat garis-garis yang melintang dan dari mata sampai ke ekor terdapat garis memanjang yang terputus.  Pada sirip dubur terdapat 2-3 garis hitam yang memanjang (longitudinal). Panjang ikan maksimum yang dapat dicapai  ± 250 mm. Rumus jari-jari sirip sebagai berikut : D.VII. 10-11;  A. IX-XII.  33-38;  L.1.  55-63.
Sifat-Sifat
Sepat siam merupakan ikan sungai dan rawa yang cocok sekali di pelihara di kolam-kolam.  Jenis ikan ini dapat hidup pada perairan yang pH-nya berkisar antara 4 - 9.  Jenis ikan ini mudah dibiakkan di sawah dan kolam.  Kematangan kelamin mulai terjadi pada  umur 7 bulan.  Pembiakan terjadi dengan terlebih dahulu ikan tersebut membuat sarang berupa gelembung-gelembung  (busa) yang bergaris tengah ± 5 cm.  Telur yang dihasilkan akan terapung berada pada sarang tersebut.  Seekor induk yang bertelor dapat menghasilkan 7000-8000 butir telor, sedangkan larva yang hidup biasanya tidak lebih dari 4000 ekor.
Telur berwarna kuning  atau putih kekuning-kuningan, mengandung globul minyak sehingga mempunyai sifat mengapung, dan embrio menetas setelah 36-48 jam dari pembuahan.  Kantong kuning telur diserap dalam waktu 3-7 hari.  Pemijahan dikolam terjadi sepanjang tahun.  Lava dan benih memakan plankton.  Ikan-ikan dewasa memakan phytoplankton seperti Bacillariphyceae, Cyanophyceae, plagellata, Zooplankaton seperti Cilliata, Rotifera, Cladocera, Copepoda, Cholorophyceaedan tumbuh-tumbuhan tinggi yang membusuk.
Pertumbuhan di kolam dan di sawah mencapai 7-9 cm dalam waktu 3 bulan, 10-12 cm dalam waktu 6 bulan dan 16-18 cm dalam waktu 12 bulan.  Berat ikan yang besar antara 130-160 gram.  Pemeliharaan yang baik adalah di daerah-daerah ketinggian sampai 800 meter dpl.
Penyebaran
Tempat asal ikan sepat siam adalah Thailand. Indonesian mendatangkan ikan ini pada tahun 1934 dari semenanjung Malaka. Kemudian jenis ikan ini karena habitat asalnya adalah rawa-rawa, ditebarkan pula didaerah rawa-rawa diperairan Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
Di Sumatera Selatan ikan ini berbiak dengan cepatnya dan kini jenis ikan ini merupakan ikan penting yang mendominasi daerah rawa.  Hasil penangkapan suatu perairan umum di sumatera selatan, 60% adalah sepat siam.  Jenis ikan ini ditangkap dengan macam-macam alat seperti pangilar (sejenis perangkap) dibuat dari kawat atau rotan, pukat (gill net) dan empang - lulung terbuat dari bambu  dengan rotan sebagai pengikatnya.  Demikian pula halnya di perairan Kalimantan, jenis ikan ini mempunyai peranan penting.  Jenis ikan ini telah dibawa pula ke Bali, Lombok, Flores dan Ambon. Pada umumnya jenis ikan ini diolah sebagai ikan asin yang diekspor ke Jawa.
Pemeliharaan ikan sepat siam di kolam-kolam di Jawa kurang popular, meskipun di daerah daratan rendah banyak pula yang memelihara.

          Pemeliharaan
          Pemeliharaan ikan sepat siam dilakukan di kolam atau di sawah, terutama di daerah-daerah dataran rendah atau di rawa-rawa yang pH-nya sedikit asam atau di kolam-kolam tergenang tanpa adanya aliran air sehingga zat asam minimal. Ikan sepat siam adalah ikan yang mempunyai alat labyrinth sehingga kekurangan zat asam tidak merupakan masalah besar.
 Di Kalimantan Selatan pemeliharaan sepat siam dilakukan dalam beje-beje yang dibuat di sawah atau di rawa berupa saluran-saluran berukuran lebar ± 2 m dan tinggi       1 - 1,5 m sedangkan panjangnya tidak tertentu.  Saluran ini pada musim hujan tergenang air bila air hujan turun pada musim kemarau maka ikan akan berkumpul dan dapat dilakukan penangkapan dengan  mudah.
   Pemeliharaan ikan sepat siam di sawah biasanya dikombinasikan dengan ikan jenis lain atau poli kultur.  Pada pemeliharaan di sawah sebaiknya saluran pinggir atau saluran tengah diperdalam, agar plankton yang dihasilkan cukup tersedia.

Perkembangbiakan
Untuk membiakan jenis ikan ini tidak diperlukan perlakuan khusus seperti pada halnya ikan-ikan mas, tawes atau gurame.  Ikan sepat dapat berbiak di kolam pemeliharaan dengan sendirinya.  Tumbuh-tumbuhan air seperti Hydrilla persicillata dan air yang cukup zat asam diperlukan.
Kolam pemijahan hendaknya agak dalam yaitu sekitar 70 - 100 cm, dan pada waktu pemijahan terjadi kolam hendaknya berair diam sehingga pemasukan air cukup untuk mengganti air yang hilang karena penguapan atau merembes. Tumbuh-tumbuhan air yang mengapung baik sekali disediakan untuk menutup sebagian kecil permukaan saja.  Pada waktu pemijahan maka ikan jantan akan membuat sarang terlebih dahulu.  
Pembuatan sarang dilakukan selama 1 - 2 hari.  Gelembung - gelembung udara (buih) yang membentuk sarang tersebut bergaris tengah 1,5 - 3 mm.  Pada waktu pembuatan sarang tersebut ikan - ikan lain tidak diperkenankan mendekat.  Jika ada ikan yang mendekat maka akan dikejarnya sehingga keluar dari daerah territorial tempat  sarang  dibuat.  Sarang  biasa dibuat dari bagian tepiatau di sudut - sudut.  Setelah sarang siap maka ikan jantan memikat betina dan pemijahan terjadi di bawah sarang.
Telur yang telah dibuahi tadi mengapung sampai mencapai sarang tersebut.  Telur menetas setelah 2 - 3 hari.  Telur kemudian dijaga oleh jantan, terutama dari gangguan-gangguan lain yang mendekat.
Untuk mengembangbiakkan ikan sepat siam ini sebaiknya kolam dipersiapkan dengan pengeringan, pemupukan dan sebagainya, agar hama benih dapat hilang dan benih cukup mendapat makanan terutama makanan alami (Zooplankton).

DAFTAR PUSTAKA
Azis D.A. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Sepat Siam Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Daelami, Deden A.S. 2002. “Agar Ikan Sehat” Jakarta: Penebar Swadaya.
Dalimartha, S. 2004. “Atlas Tumbuhan Obat Indonesia”, Anggota IKAPI, Puspita Swara.
Suyanto, S. Rachmatun. 1995.  “Parasit Ikan dan Cara-cara Pemberantasannya”. Jakarta: Yayasan Sosial Tani Membangun.

Kamis, 08 Agustus 2019

MENGENAL IKAN SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus)


MENGENAL IKAN SEPAT RAWA
(Trichogaster trichopterus)


Sepat rawaTrichogaster trichopterus, atau sering disebut sepat rawa (biasa) adalah sejenis ikan anggota suku gurami (Osphronemidae). Seperti kerabatnya yang bertubuh lebih besar, sepat siam (T. pectoralis), ikan ini merupakan ikan konsumsi yang disukai orang, meski umumnya hanya bernilai lokal. Namun di samping itu terdapat pula varian-varian hiasnya yang berwarna menarik, yang populer sebagai ikan akuarium.

Ikan Sepat merupakan ikan yang hidup di air tawar dan termasuk dalam golongan marga Trichogaster, anggota suku gurami Osphronemidae. Di indonesia ikan ini dikenal sebagai ikan konsumsi. dan beberapa jenisnya di perdagangkan sebagai ikan hias. Ikan ini banyak dikenal dengan nama-nama lokal seperti sepat sawah/rawa, sepat jawa, sepat biru, sepat ronggeng (Melayu), sapek (Minang) dan lain-lain. Dalam perdagangan ikan hias bergantung pada varietasnya, ikan ini dikenal dengan nama-nama (Ingg.) seperti Three spot gourami, Blue gourami, Cosby gourami, Gold gourami, Golden gourami, serta Opaline gourami. Sepat semula digolongkan ke dalam suku Belontiidae, bersama cupang dan kerabatnya. Akan tetapi sekarang suku ini telah digabungkan ke dalam suku Osphronemidae, yang juga mencakup gurami dan sepat kerdil (Colisa).  

Marga Trichogaster berkerabat dekat dengan marga Colisa; anggota kedua marga ini sama-sama memiliki sirip perut berupa cambuk. Namun marga Trichogaster memiliki sirip punggung yang relatif lebih pendek, dan individu dewasanya berukuran jauh lebih besar daripada Colisa.

Klasifikasi Ilmiah : 

Kerajaan Animalia 
Filum : Chordata 
Kelas : Actinopterygii 
Ordo Perciformes 
Sub Ordo : Anabantoidae 
Famili : Osphonemidae 
Sub Famili : Luciophalinae 
Genus : Trichogaster


Sebagaimana kerabat-kerabat dekatnya, yakni tambakan, betokgurami, dan cupang, sepat tergolong ke dalam anak bangsa Anabantoidei. Kelompok ini dicirikan oleh adanya organ labirin (labyrinth) di ruang insangnya, yang amat berguna untuk membantu menghirup oksigen langsung dari udara. Adanya labirin ini memungkinkan ikan-ikan tersebut hidup di tempat-tempat yang miskin oksigen seperti rawa-rawa, sawah dan lain-lain.




Ciri ciri umum ikan sepat bertubuh pipih jorong dengan moncong runcing dan mulut kecil. Sisik kecil-kecil, bersusun miring, dalam aneka ukuran. Gurat sisi sempurna, bentuk tabung yang kadang-kadang agak lengkung. Sirip punggung (dorsal) terletak jauh ke belakang, namun berakhir agak jauh di depan sirip ekor. 

Sirip perut (ventral) berubah bentuk sepasang jari-jari lunak yang pertama berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk panjang sepanjang badan, ditambah dengan sepasang duri pendek dan beberapa pasang jumbai pendek yang tak seberapa terlihat. Sirip dubur (anal) memanjang mulai dari di bawah dada hingga pangkal ekor. Sirip dada (pectoral) kurang lebih meruncing, sementara sirip ekor sedikit bercabang. 
Ikan jenis ini hidupnya bergerombol di rawa-rawa, danau, aliran-aliran air yang tenang, dan umumnya lahan basah di dataran rendah termasuk sawah-sawah serta saluran irigasi. Biasanya sepat berkumpul di dekat tanaman air seperti kangkung, eceng gondok dan sejenisnya. Selain tempat makan, tanaman tersebut juga dijadikan tempat untuk menyimpan telur mereka saat berkembang biak. Pada musim berbiak, ikan jantan membangun sebuah sarang busa untuk menampung dan memelihara telur-telur sepat betina, yang dijagainya dengan agresif. Disaat musim banjir, penyebarannya meluas mengikuti aliran banjir. Ikan Sepat memangsa zooplankton, krustasea kecil dan aneka larva serangga.
Ikan sepat banyak tersebar di bagian Indocina, terutama di lembah Sungai Mekong di Cambodia atau Kamboja, dan di Indonesia Barat, yakni di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sekitar tahun 1938, ikan sepat ini dimasukkan ke Danau Tondano dan tempat-tempat lain di Sulawesi. Beberapa spesies dari jenis ikan sepat yang diketahui yaitu sepat siam, sepat rawa dan sepat mutiara. Sepat mutiara banyak dipergunakan sebagai pajangan ikan hias di akuarium krena jenis ini memiliki varian warna yang menarik.
Ada dua jenis ikan sepat yang banyak di temukan di perairan Indonesia, yaitu sepat rawa dan jenis lainnya yaitu sepat siam.
Sepat rawa dalam bahasa latin (Trichogaster Trichopterus), merupakan ikan konsumsi yang paling disukai orang, meski umumnya hanya bernilai lokal.
Namun di samping itu, terdapat pula varian -varian hiasnya yang berwarna- warni serta menarik, yang populer sebagai ikan hiasan akuarium.Sebutan lain ikan sepat rawa di Indonesia adalah sepat sawah, sepat jawa, sepat biru, sepat ronggeng (Malaysia), dan masih banyak lain -lain.
Untuk sepat yang bisa dijadikan ikan hias tergantung dari varietasnya, dimana lebih banyak dikenal dengan nama -nama Inggris seperti: Three spot gourami, Cosby gourami, Blue gourami, Golden gourami, Gold gourami, serta Opaline gourami.
Ikan ini biasanya hidup di rawa -rawa, danau, aliran -aliran air yang tenang, sawah -sawah, saluran irigasi dan di lahan basah lainnya yang terletak di dataran rendah dan tenang.
Pada saat musim banjir, penyebaran ikan ini meluas mengikuti aliran banjir, makanan sepat rawa biasanya dengan memangsa zooplankton, krustasea kecil dan aneka larva serangga kecil lainnya.Pada musim berkembang biak, ikan jantan senantiasa membangun sebuah sarang busa yang berguna untuk menampung dan memelihara telur -telur sepat dari sepat betina.
 Sepat rawa mulai menyebar di Indocina, terutama di lembah Sungai Mekong, dan di Indonesia barat, yakni di Sumatra,Ciri pada ikan sepat rawa adalah, bertubuh pipih dan bermoncong runcing sempit, panjang total hingga 120 mm, berwarna perak buram kebiruan atau kehijauan.
Dengan beberapa antenna mirip pita miring berwarna gelap, serta bercak hitam yang masing -masing berada pada tengah sisi tubuh dan pada pangkal ekor. Warna tubuh ikan sepat ini amat bervariasi, baik perimbangan terang gelapnya maupun bentuk pada pola -pola warna tubuhnya, begitu juga dengan bilangan jari -jari pada sirip -siripnya.
Sepasang jari -jari terdepan pada sirip perut dapat berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk atau pecut.
Berbentuk yang memanjang hingga ke bagian ekornya, dilengkapi oleh sepasang duri dan 2 -3 jumbai yang pendek.
Sepat Siam bila dalam bahasa latin (Trichogaster pectoralis), merupakan ikan konsumsi yang cukup penting, terutama sebagai sumber protein bagi tubuh.Selain dijual dalam keadaan segar di pasar- pasar, sepat siam kerap diawetkan dalam bentuk ikan asin dan diperdagangkan antar pulau di daerah Indonesia.Tidak seperti jenis sepat air tawar yang lainnya, sepat siam kurang populer sebagai ikan hias untuk di pasangkan dengan akuarium.
Sebutan lain dari sepat siam adalah Siamese gourami atau snake skin gouramy (Inggris), slipper (Jawa Timur). Sebagaimana ikan sepat rawa umumnya, ikan ini sangat menyukai rawa- rawa, danau, sungai dan parit -parit yang berair tenang terutama yang banyak air dan makanannya serta ditumbuhi tumbuhan air.
Penyebaran asli ikan ini adalah di wilayah Asia Tenggara, terutama di lembah Sungai Mekong di darah Laos, Sepat siam mulai masuk ke perairan Indonesia pada tahun 1934, yang kemudian dikembangkan pembudidayaannya di kolam -kolam dan sawah. Pada tahun 1937, sepat ini  dimasukkan ke Danau Tempe di Sulawesi dan kemudian sedemikian berhasil di kembang biakan, sehingga dua tahun kemudian ikan ini mulai mendominasi.
Manfaat Ikan Sepat Bila Dikonsumsi
•        Mencegah Dimensia
•        Mencegah Terjadinya Peradangan
•        Mengurangi resiko terkena alzheimer
•        Ibu Hamil dan Masalah Prematur
•        Menstabilkan Tekanan Darah Tinggi
•        Mencegah Depresi
•        Mengurangi risiko stroke
•        Mencegah Diabetes
•        Mata dan kulit menjadi lebih sehat
•        Mengurangi risiko adanya kanker

Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Sepat_rawa

https://www.semuaikan.com/khasiat-dan-manfaat-ikan-sepat-untuk-kesehatan-tubuh-manusia/